SERANG, = Jum'at, 2 Januari 2026 "Kaderisasi Itu Bukan Mencetak Pengikut, Tapi Melahirkan Pemimpin"
Jika dalam pola kaderisasi hanya dilakukan satu arah dan kader hanya mendengarkan, kemudian hanya nurut dan menerima. lalu yang jadi pertanyaan kemudian hari, "jika semua mengikuti, lalu siapa yang mempunyai nalar kritis?.
Banyak organisasi hari ini bangga menyebut dirinya berhasil melakukan kaderisasi. Pesertanya banyak, acaranya rapi, sertifikat keikutsertaan dibagikan administrasi selesai.
Tapi ada satu pertanyaan yang jarang diajukan dengan jujur:
apa yang sebenarnya kita lahirkan dari proses itu?
Di titik inilah kaderisasi sering kehilangan maknanya. la berubah dari proses pembebasan kesadaran menjadi alat reproduksi kekuasaan internal.
REALITA
Realitanya, banyak kaderisasi hari ini lebih sibuk mencetak loyalitas, kuantitas, dari pada kualitas dan kesadaran. Dimana yang dihargai bukan yang kritis, tapi yang nurut/patuh.
Forum kaderisasi jadi ruang satu arah:
senior bicara, kader mendengar.
Senior benar, kader belajar menerima.
Kader menyangkal senior mematahkan.
Karena kaderisasi hari ini hanya ajang gengsi organisasi bukan esensi atau substansi, Ada dua istilah yang sering digunakan pada pelaksanaan kaderisasi sekarang adalah:
Nara dan sumber
• Nara ialah orang yang memberikan kontribusi dengan kapasitas atau kapabilitas ilmu nya dan juga memberikan sumbangsih finansial pada kegiatan.
• Sumber ialah orang yang memiliki kuasa kegiatan karena materil bukan karena kapabilitas ilmu nya.
Ujar senior: " udah Abang aja yg ngisi materi, masalah akomodasi dari Abang ".
Akhirnya organisasi penuh orang baik, rajin, dan sopan tapi minim inisiatif, minim keberanian, nalar kritis dan takut mengambil keputusan.
Struktur jalan, tapi regenerasi kepemimpinan terhenti.
PEMBAHASAN
Padahal kaderisasi tidak pernah bertujuan melahirkan pengikut. melainkan bertujuan untuk menyiapkan pemimpin bahkan pemimpin yang suatu hari bisa melebihi
seniornya sendiri.
Pemimpin lahir dari proses berpikir, berdebat, gagal, yang kemudian bangkit dengan kesadaran.
Kaderisasi yang sehat justru memberi ruang untuk diskusi, untuk bertanya, bahkan untuk menggugat.
Kalau kader hanya diajarkan "ikut", maka organisasi sedang menyiapkan krisis masa depan.
Karena ketika senior pergi, yang tersisa hanyalah kebingungan.
Tidak ada yang berani memutuskan, tidak ada yang siap memikul tanggung jawab.
Ujar Ketua I Bidang Kaderisasi
M. Fikri Rama Putra
Bahwa Kaderisasi yang benar tidak pernah netral,
la selalu berpihak: berpihak pada pembebasan kesadaran, atau berpihak pada pelanggengan kekuasaan. Dan sayangnya, banyak organisasi hari ini tanpa sadar memilih yang kedua, atau bahkan perlahan menurunkan standar
kaderisasinya sendiri.
kaderisasi bukan hanya soal mentransfer pengetahuan organisasi, tetapi mewariskan cara berpikir, Cara membaca situasi, Cara memutuskan dalam keterbatasan, dan Cara bersikap ketika nilai organisasi berbenturan dengan kepentingan pribadi atau tekanan eksternal.
Dan ia menegaskan bahwa, Organisasi yang sehat justru tidak takut melahirkan kader yang suatu hari akan mengkritiknya. Karena kritik adalah tanda bahwa kesadaran tumbuh. Sebaliknya, organisasi yang hanya nyaman dengan kader patuh sedang menyiapkan kehancurannya sendiri: struktur tetap berdiri, tapi tidak ada pemimpin yang mampu membaca perubahan zaman.
Organisasi tidak kekurangan orang pintar hanya kekurangan orang yang berani memimpin dengan kesadaran nilai dan itu hanya bisa lahir dari kaderisasi yang membebaskan, bukan menundukkan.
Karena rumus kaderisasi itu :
bergerak sama-sama,
Sama-sama bergerak.
REFLEKSI
Coba kita jujur pada diri sendiri:
• Apakah kaderisasi kita hari ini memberi ruang tumbuh, atau justru menekan perbedaan?
• Apakah kita membentuk kader agar berani berpikir, atau sekadar pandai mengiyakan?
Jangan-jangan, yang kita sebut "kader ideal" selama ini hanyalah orang yang tidak merepotkan struktur.
Dan jangan-jangan, kita takut melahirkan pemimpin karena pemimpin berarti potensi kritik, perubahan, dan ketidaknyamanan.
Padahal organisasi yang takut pada kader kritis sesungguhnya sedang takut pada masa depannya sendiri.
KESIMPULAN
Kaderisasi bukan soal regenerasi jabatan, kaderisasi adalah proses pewarisan kesadaran dan tanggung jawab. Jika yang diwariskan hanya kepatuhan, maka organisasi akan jalan di tempat (stagnan), Tapi jika yang diwariskan adalah keberanian berpikir dan memimpin, organisasi akan terus hidup bahkan setelah kita tidak ada di dalamnya.
Pemimpin lahir dari proses yang jujur, keras, dan bermakna. Bukan dari proses yang rapi tapi mematuhkan dan menundukan.
PENUTUP
"Organisasi tidak runtuh karena kekurangan pengikut, tapi karena kehabisan pemimpin. Maka hentikan kaderisasi yang hanya mencetak barisan pengikut.
Mulailah melahirkan manusia-manusia yang berani berpikir, mengambil sikap, dan memikul tanggung jawab.
Karena kaderisasi bukan soal menjaga kekuasaan hari ini, tapi menyiapkan kepemimpinan untuk hari esok."
Closing steatmen nya ia mengatakan:
"kaderisasi adalah tugas, regenerasi adalah tanggung jawab, organisasi ialah sebuah kehormatan, maka turunkan gengsimu, dukunglah pergerakan. walau tak seramai organisasi lain kalau bukan kamu siapa lagi ".
Red


